Anugerah Puspa Bangsa

Ajang pemberian apresiasi pada perempuan-perempuan Indonesia yang menginspirasi, berdampak, dan
berpengaruh kepada masyarakat luas. Penghargaan tertinggi kepada perempuan Indonesia yang
berkontribusi mengharumkan nama bangsa. Perhelatan ini adalah wujud apresiasi bagi figur-figur yang
mewakili gambaran tangguh, peduli lingkungan dan sesama, cerdas, mandiri, berdaya, serta mampu
memberdayakan perempuan-perempuan lain.
#perempuan tangguh

tentang kami

Anugerah Puspa Bangsa adalah ajang penghargaan kepada perempuan atas prestasi, dedikasi, inovasi, dan kontribusinya yang luar biasa terhadap masyarakat di berbagai bidang.

Mereka adalah para perempuan yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan sosial (Puspa Pertiwi), melestarikan seni dan budaya (Puspa Pesona), menjadi penggerak organisasi/ perempuan di daerahnya (Puspa Cita), yang menjadi teladan kepemimpinan perempuan (Puspa Adi Daya), perempuan muda pembawa Indonesia menuju masa depan yang cerah (Puspa Nawasena), serta sosok luar biasa yang konsisten peduli terhadap isu perempuan (Puspa Bangsa).

Kategori Penghargaan

Puspa Pertiwi
Diberikan kepada sosok perempuan yang mengabdikan dirinya untuk kelestarian lingkungan dan sosial berkelanjutan. Mereka menjadi garda terdepan untuk membangun kesadaran pentingnya menjaga bumi pertiwi, memperjuangkan hak sosial bagi komunitas marginal, serta menyuarakan keadilan bagi yang terlupakan.
Puspa Pesona
Dipersembahkan kepada para perempuan yang dengan tulus hati menjaga warisan seni budaya indonesia agar pesonanya tidak tergerus peradaban. Tak hanya menjaga, mereka juga memberi inspirasi untuk terus mencintai jati diri bangsa.
Puspa Cita
Apresiasi bagi para ketua PKK pewujud cita-cita bangsa. Bagi mereka yang menjadi ujung tombak penggerak masyarakat di daerahnya, demi mensukseskan program pemerintah melalui tiga pilar yaitu pendidikan, kesehatan dan perekonomian.
Puspa Adi Daya
Apresiasi bagi para perempuan yang telah membuktikan kepiawaiannya memimpin, berinovasi serta sukses di bidang yang dipimpinnya. Bukan hanya berdaya cipta, tapi juga memberdayakan perempuan lain, menjadi inspirasi bagi sesama perempuan untuk terus melangkah maju, serta membuka peluang bagi generasi mendatang.
Puspa Nawasena
Penghargaan yang diberikan kepada para perempuan muda, yang berani bermimpi, berinovasi, melawan arus dan penggerak perubahan untuk merintis jalan bagi generasi baru demi masa depan yang cerah.
Puspa Bangsa
Penghargaan tertinggi dalam Anugerah Puspa bangsa yang diberikan kepada tokoh atau aktivis besar perempuan yang konsisten peduli akan isu perempuan dan kesetaraan gender. Perempuan yang senantiasa menyalakan obor semangat dalam menyuarakan hak perempuan untuk menjadi setara.
Puspa Adhikara
Penghargaan khusus yang diberikan kepada kepala daerah perempuan yang memiliki wibawa dan peranan di daerahnya, dengan memberdayakan perempuan, pengentasan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

penerima anugerah

Penerima Anugerah Puspa Bangsa 2026

Kategori

Puspa Pertiwi
Farwiza Farhan
Aktivis Lingkungan & Konservasionis Hutan Aceh

Farwiza Farhan merupakan konservasionis hutan dan aktivis lingkungan yang berasal dari Aceh. Ia dikenal atas dedikasinya dalam menjaga kelestarian hutan Kawasan Ekosistem Leuser. Melalui Yayasan Hutan Alam Lingkungan Aceh (HAkA), ia berperan dalam menjaga kedaulatan hutan Leuser dari berbagai ancaman.

Baginya, hutan bukan sekadar deretan pepohonan, melainkan napas kehidupan yang harus dijaga keberlangsungannya. Karenanya, ia menggerakkan lahirnya para ranger perempuan pertama di wilayahnya. Kehadiran mereka membuktikan bahwa tangan-tangan perempuan mampu berdiri di garis terdepan konservasi, dan menjadi simbol keberanian yang meruntuhkan batasan dalam perlindungan dan konservasi lingkungan.

Namun, pengabdian Farwiza tidak berhenti di batas rimba. Ketika bencana melanda, ia segera melangkah menuju wilayah-wilayah terisolasi, memastikan bantuan sampai ke tangan mereka yang terdampak. Baginya, menjaga alam dan merawat kemanusiaan adalah satu tarikan napas, menjadi sebuah dedikasi tulus yang membawa dampak luas bagi kelestarian bumi dan martabat sesama.

Tri Mumpuni
Ketua Yayasan Inisiatif Bisnis Ekonomi Kerakyatan (IBEKA)

Dunia mengenalnya sebagai 'Perempuan Listrik', namun bagi masyarakat pelosok Nusantara, Tri Mumpuni adalah pembawa lentera harapan. Sebagai Ketua Yayasan Inisiatif Bisnis Ekonomi Kerakyatan, ia mendedikasikan hidupnya untuk menghadirkan cahaya ke desa-desa yang selama puluhan tahun terabaikan oleh akses energi.

Melalui pembangunan lebih dari 60 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), ia membuktikan bahwa teknologi paling canggih sekalipun tidak akan bermakna tanpa pelibatan hati masyarakat. Dengan pendekatan ekonomi kerakyatan, ia mengajak warga menjadi pemilik dan penjaga sumber energinya sendiri. Di tangannya, aliran air sungai tidak hanya berubah menjadi listrik, tetapi bertransformasi menjadi penggerak ekonomi dan napas perubahan sosial.

Kiprahnya yang memanusiakan teknologi ini telah mengetuk pintu dunia. Dari desa-desa terpencil di Indonesia, Tri Mumpuni kini melangkah ke panggung internasional, berbagi inspirasi dan menerima berbagai penghargaan dunia atas dedikasinya membangun kemandirian bangsa dari akar rumput.

Velma Riri Bambari
Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak Institut Mosintuwu

Di sunyinya Lembah Bada, Poso, seorang ibu rumah tangga sekaligus penyandang disabilitas melangkah melampaui keterbatasan fisiknya demi sebuah misi kemanusiaan. Velma Riri Bambari, sosok yang berdiri tegak sebagai satu-satunya sandaran bagi para korban kekerasan seksual di wilayahnya.

Sejak 2018, Velma dengan berani menembus dinding tradisi. Ia menantang hukum adat yang kerap menyudutkan korban dan berjuang tanpa lelah agar keadilan ditegakkan melalui hukum positif. Baginya, martabat perempuan tidak boleh dikompromikan oleh dalih apa pun.

Melalui Institut Mosintuwu, ia tidak hanya mendampingi proses hukum, tetapi juga memeluk jiwa para korban dalam pemulihan trauma. Keteguhan Velma adalah bukti nyata bahwa keterbatasan tubuh bukanlah penghalang untuk menjadi cahaya keadilan, menjaga martabat sesama, dan mengembalikan senyum yang sempat terampas di pelosok negeri.

Puspa Pesona
Gusti Ayu Soli
Pelestari Tari Legong Bapang Saba

Di Desa Saba, Gianyar, nama Gusti Ayu Soli atau sosok yang akrab disapa Niang Soli, menjadi simbol keteguhan dalam menjaga tradisi. Hampir satu abad usianya ia persembahkan hanya untuk satu cinta, yakni Tari Legong Bapang Saba. Sebuah pengabdian tulus yang membuat dunia berhenti sejenak, memberi ruang hormat bagi sebuah kesetiaan mutlak.

Meski raga telah melewati berbagai musim, keluwesan gerakannya seolah tak pernah memudar. Jemari yang lentik serta lirikan mata yang tajam masih menari dengan kedalaman makna yang sulit digambarkan kata-kata. Bagi Niang Soli, menari bukan sekadar seni pertunjukan, ia adalah napas, ia adalah doa, dan bagian utuh dari kehidupan itu sendiri.

Niang Soli meyakini bahwa selama raga masih mampu bergerak, menari adalah sumber sukacita yang menghidupkan jiwa. Melalui keteguhannya, ia menunjukkan bahwa tradisi adalah akar yang menjaga identitas tetap kokoh, meski dihantam derasnya perubahan zaman.

Kahi Ata Ratu
Pelestari Alat Musik Jungga

Di hamparan sabana Sumba Timur, denting dawai Jungga bukan sekadar alunan musik, melainkan suara keteguhan dari seorang Kahi Ata Ratu. Selama lebih dari setengah abad, perempuan yang akrab disapa Mama Ata Ratu ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat warisan leluhur yang dahulu tabu dimainkan oleh kaum perempuan.

Melalui ketegarannya, ia tidak hanya menjaga tradisi agar tak lekang oleh waktu, tetapi juga mendobrak batasan budaya. Ribuan balada telah ia lahirkan dari jemarinya, membawa kekayaan batin masyarakat Sumba melintasi samudra hingga ke panggung internasional.

Namun, bagi tanah kelahirannya, Mama Ata Ratu adalah lebih dari sekadar musisi. Lagu-lagunya adalah jeritan hati yang menyuarakan kepedulian terhadap isu sosial dan kedaulatan tanah adat. Di usia senja, ia tetap konsisten berkarya, dan menjadi jembatan yang menghubungkan akar tradisi dengan dinamika dunia modern, memastikan napas Sumba terus berdenyut dalam setiap nada.

Kartika Affandi
Seniman

Nama Kartika Affandi lahir dan tumbuh dari denyut nadi seni rupa Indonesia yang paling murni. Sebagai putri sang maestro, Affandi Koesoema, ia tak sekadar memikul warisan besar, namun ia memilih jalan yang lebih sulit, yakni membangun identitasnya sendiri melalui karya yang jujur, emosional, dan berani.

Setiap guratan di kanvasnya melampaui keindahan visual. Di sana tersimpan narasi perjalanan batin yang mendalam, menangkap esensi kehidupan manusia dengan kejujuran yang sering kali mengejutkan. Ia tidak hanya melukis apa yang ia lihat, tetapi ia melukis apa yang ia rasakan dalam ruang personalnya yang paling dalam.

Dedikasinya telah diakui oleh dunia, membuktikan bahwa napas perempuan Indonesia mampu memberi warna dan pengaruh di panggung seni rupa global. Kartika Affandi adalah representasi sejati dari kebebasan berekspresi, sebuah kekuatan yang terus hidup, menantang zaman, dan memperkaya sejarah seni rupa Nusantara.

Puspa Nawasena
Leonika Sari Njoto
Founder Reblood

Perubahan besar sering kali bermula dari kesulitan pribadi yang dirasakan oleh hati yang peduli. Begitupun bagi Leonika Sari Njoto. Berawal dari pengalaman sulitnya mencari kantong darah, ia pun melahirkan aplikasi Reblood, sebuah inovasi digital yang mengubah cara kita menyelamatkan nyawa.

Bagi Leonika, donor darah bukan sekadar tindakan medis, melainkan sebuah gaya hidup sehat yang harus dipermudah aksesnya. Melalui efisiensi teknologi, Reblood hadir menjadi jembatan cerdas yang menghubungkan kebutuhan darah dengan ketulusan para pendonor secara tepat dan cepat.

Kini, Reblood telah merangkul ratusan ribu pahlawan kemanusiaan, memastikan ketersediaan darah di berbagai kota di Indonesia tetap terjaga. Langkah yang dimulai dari sebuah empati sederhana, kini telah tumbuh menjadi gerakan nyata yang menenun harapan dan kesehatan bagi masyarakat luas.

Nurdini Prihastiti
Pendiri Dama Kara

Bagi Nurdini Prihastiti, mode bukan sekadar tentang estetika pakaian, melainkan sebuah media untuk merayakan kemanusiaan. Melalui Dama Kara, ia membangun sebuah ekosistem di mana bisnis berjalan seiring dengan nilai inklusivitas dan dampak sosial yang mendalam.

Melalui 'Koleksi Kolaborasi Teman Istimewa', Nurdini memberikan panggung bagi para penyandang disabilitas. Ia mengubah hasil terapi gambar mereka menjadi desain produk yang penuh makna, dan di setiap keuntungan yang diraih oleh koleksi Kolaborasi Teman Istimewa dikembalikan sepenuhnya untuk kesejahteraan mereka. Di tangannya, guratan warna yang jujur bertransformasi menjadi karya yang melampaui batas negara.

Tak hanya memukau di tanah air, karya-karya ini telah melangkah jauh hingga ke Korea Selatan pada tahun 2025. Nurdini membuktikan bahwa Dama Kara bukan sekadar merek fashion, melainkan sebuah ruang pembuktian bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk melahirkan karya yang bernilai tinggi dan menyentuh hati dunia.

Sri Fatmawati
Direktur Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura Indonesia

Sri Fatmawati merupakan ilmuwan kimia yang menjembatani tradisi jamu dengan pendekatan sains modern. Melalui riset bahan alam, ia mendorong pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia untuk pengembangan kesehatan. Atas kontribusinya, ia telah menerima lebih dari tiga puluh penghargaan internasional.

Ia juga mencatatkan sejarah sebagai ilmuwan Asia pertama yang menerima Doctor Willmar Schwabe Award. Sebuah penghargaan internasional bergengsi dua tahunan yang diberikan oleh Society for Medicinal Plant and Natural Product Research (GA) kepada ilmuwan muda yang berdedikasi tinggi pada penelitian farmakologis atau klinis yang luar biasa di bidang tanaman obat dan bahan alam.

Bagi Sri Fatmawati, ilmu pengetahuan bukan hanya milik akademisi, melainkan jembatan antara inovasi, kearifan lokal, dan pemberdayaan lintas negara. Melalui karyanya, ia membawa potensi bahan alam Indonesia ke panggung kesehatan dunia.

Puspa Bangsa
Lettu Pnb. Lulu Lugiati
Penerbang Perempuan Pertama Indonesia

Di tengah dominasi laki-laki di dunia penerbangan militer, nama Lettu Pnb. Lulu Lugiyati hadir sebagai pelopor yang membuka cakrawala baru.

Bergabung sebagai bagian dari angkatan pertama Wanita Angkatan Udara (Wara) pada tahun 1963, Lulu melangkah lebih jauh dengan menjadi salah satu pilot wanita militer pertama di Indonesia setelah lulus dari Sekolah Penerbang Lanud Adisutjipto pada 1964.

Dalam prosesnya, keterbatasan tak menghalangi langkahnya. Saat berlatih dengan pesawat Piper Cub L-4J, ia harus mengganjal kursinya agar dapat menjangkau pedal kemudi. Keteguhan itu membawanya terlibat dalam Operasi Dwikora, termasuk misi udara malam hari di wilayah Jesselton yang kemudian dikenal sebagai Operasi Lulu.

Jejaknya telah menjadi simbol bahwa perempuan mampu menembus batas dan menjalankan peran strategis di ruang yang sebelumnya tertutup.

Letda Pnb. Herdini
Penerbang Perempuan Pertama Indonesia

Letda Pnb. Herdini adalah bagian dari sejarah awal perempuan di dunia penerbangan militer Indonesia.

Sebagai salah satu dari 30 anggota pertama Wanita Angkatan Udara (Wara) tahun 1963, ia menjadi satu dari dua perempuan yang berhasil lulus pendidikan penerbang. Dengan latar belakang ilmu geografi dari UGM, ia memiliki keunggulan dalam navigasi visual dan pemahaman cuaca di era teknologi yang masih terbatas.

Herdini berhasil melakukan solo flight dengan pesawat Piper Cub L-4J dan terlibat dalam Operasi Dwikora, termasuk misi rahasia di langit Jesselton menggunakan pesawat C-130 Hercules. Dalam perjalanannya, ia juga menghadapi berbagai tantangan di kokpit, mulai dari pendaratan darurat hingga risiko operasional lainnya.

Pengabdiannya menjadi tonggak penting membuka jalan bagi perempuan untuk berperan dalam fungsi teknis-operasional militer Indonesia.

Puspa Adidaya
dr. Ayu Widyaningrum
Aesthetic Doctor & Owner Widya Esthetic Clinic

Dalam dunia kesehatan yang terus berevolusi, dr. Ayu Widyaningrum hadir sebagai sosok klinisi sekaligus inovator yang menetapkan standar baru. Dengan pengakuan prestisius di tingkat Asia Pasifik, ia berhasil menjembatani mutakhirnya teknologi kedokteran regeneratif dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.

Bagi dr. Ayu, kecanggihan medis kehilangan maknanya tanpa sentuhan empati. Melalui aksi filantropi yang luas, ia menyalurkan kasih sayangnya dengan merangkul dan memberikan santunan bagi ribuan anak yatim. Ia percaya bahwa kesehatan sejati mencakup kesejahteraan fisik maupun kebahagiaan batin sesama.

Melalui visi kepemimpinan yang inklusif, dr. Ayu Widyaningrum terus melangkah, dan mengukir inovasi medis yang berkelanjutan demi meningkatkan martabat dan kualitas hidup masyarakat luas.

Elvira Lianita
Direktur PT HM Sampoerna Tbk.

Lebih dari dua dekade perjalanan karier telah membentuk Elvira Lianita menjadi salah satu pilar kekuatan dalam industri besar di Indonesia. Sebagai Direktur PT HM Sampoerna, ia memegang kemudi dengan visi yang jernih, yakni menyelaraskan stabilitas bisnis dengan transformasi yang berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik.

Bagi Elvira, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari seberapa besar dampak yang dirasakan oleh masyarakat. Ia menghadirkan kepemimpinan yang inklusif dengan memperkuat rantai pasok yang merangkul ratusan ribu ritel tradisional serta memberdayakan wirausaha lokal sebagai penggerak ekonomi bangsa.

Melalui dedikasinya, ia membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan adalah kekuatan esensial dalam mendorong kemajuan ekonomi.

Kataline Darmono
Managing Director Khong Guan Group

Dari warisan rasa yang telah melintasi generasi dan menjadi bagian dari memori bangsa, Kataline Darmono hadir membawa arah baru bagi masa depan industri. Sebagai Managing Director Khong Guan Group, ia memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kekuatan tradisi sembari mengobarkan visi inovasi yang berkelanjutan.

Di bawah kepemimpinannya, transformasi tidak lagi sekadar angka pertumbuhan bisnis, melainkan sebuah perubahan kesadaran. Ia melangkah lebih jauh dengan mengintegrasikan energi tenaga surya ke dalam jantung produksi serta konsisten menyuarakan nilai inklusivitas di setiap lini. Baginya, industri masa depan adalah industri yang selaras dengan alam dan menghargai keberagaman manusia.

Kataline Darmono membuktikan bahwa kepemimpinan yang berakar pada dedikasi mampu melampaui batas ruang dan waktu. Ia tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga sedang menenun dampak yang lebih luas bagi keberlangsungan masa depan Indonesia.

Puspa Cita
Ghyta Eka Puspita
Ketua TP PKK Kabupaten Jember

Bagi Ghyta Eka Puspita, kepemimpinan adalah jembatan untuk menghadirkan keadilan sosial bagi mereka yang sering tak terdengar. Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Jember, ia tidak sekadar menggerakkan ekonomi, tetapi juga menenun jaring pengaman bagi masyarakat di sektor informal.

Ketulusannya terwujud dalam perlindungan jaminan kesehatan serta membuka pintu masa depan melalui beasiswa bagi anak-anak pedagang sayur keliling. Ia percaya bahwa setiap anak, berhak memiliki mimpi yang setinggi langit.

Perannya sebagai Bunda Perawat dan Bunda Bidan menempatkannya di garda terdepan dalam menjaga setiap denyut kehidupan. Dengan kasih seorang ibu, ia menyisir pelosok desa untuk menjaga keselamatan ibu dan anak, serta berjuang tanpa lelah menekan angka stunting demi melahirkan generasi Jember yang sehat dan tangguh di masa depan.

Lintong Rita Puspita Vickner Sinaga
Ketua TP PKK Kabupaten Dairi

Dari kesejukan perbukitan hijau Dairi, Lintong Rita Puspita Vickner Sinaga membawa semangat pengabdian yang melampaui jarak, menjangkau hingga ke sudut-sudut desa yang paling sunyi. Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Dairi, ia percaya bahwa kemajuan daerah bermula dari pemuliaan terhadap ilmu pengetahuan dan para pengajarnya.

Melalui program apresiasi dan beasiswa bagi para pendidik, ia memberikan penghormatan tertinggi kepada mereka yang telah mendedikasikan hidup untuk membangun karakter dan masa depan bangsa. Baginya, guru adalah pelita yang harus terus dijaga agar api pengetahuannya tetap menyala di hati anak-anak Dairi.

Tak hanya itu, melalui inisiatif 'Ibu Hamil Sehat dan Bahagia', ia turut menjaga setiap denyut kehidupan sejak dalam kandungan. Dengan cinta seorang ibu, ia memastikan bahwa tidak ada satu pun mimpi anak bangsa yang terhambat oleh stunting, demi melahirkan generasi emas Dairi yang tumbuh sehat, cerdas, dan penuh harapan.

Nurlena Rahmad Mas’ud
Ketua TP PKK Kota Balikpapan

Nurlena Rahmad Mas’ud memainkan peran penting dalam pembangunan sumber daya manusia, di Kota Balikpapan, gerbang utama ibu kota Nusantara. Sebagai Ketua TP PKK, ia bergerak dalam senyap namun pasti, menjalin kolaborasi hingga ke tingkat akar rumput demi menekan angka stunting. Baginya, pembangunan fisik kota haruslah berjalan seiring dengan kualitas kesehatan dan masa depan generasi yang akan menghuninya.

Kepeduliannya pun merambah pada upaya menjaga ruh budaya bangsa. Melalui perannya di Dekranasda, ia menjadi penggerak utama kebangkitan batik Balikpapan, memastikan setiap helai kain tetap bercerita tentang warisan leluhur di tengah deru modernisasi. Nurlena Rahmad Mas’ud bukan sekadar membangun kota, ia tengah merawat identitas dan martabat masyarakatnya di beranda masa depan Indonesia.

Sujatinah Elvis Tabuni
Ketua TP PKK Kabupaten Puncak

Dari jantung pegunungan Papua Tengah, Sujatinah Elvis Tabuni hadir membawa fajar perubahan bagi masyarakat di wilayah terpencil. Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Puncak, ia menginisiasi program 'Niniki Lambunik Eruwok', sebuah model kampung binaan yang dirancang menjadi fondasi kokoh bagi kemandirian dan martabat keluarga.

Meski harus berhadapan dengan kondisi geografis yang ekstrem, langkahnya tak pernah surut. Ia menembus berbagai distrik, menyisir lereng dan lembah demi memastikan bahwa cahaya layanan kesehatan serta pendidikan benar-benar menyentuh tangan anak-anak di garis terdepan Nusantara. Bagi Sujatinah, jarak bukanlah penghalang, melainkan tantangan untuk membuktikan bahwa keadilan dan kesejahteraan adalah hak setiap insan di tanah Papua.

Puspa Adhikara
Ely Toisutta
Wakil Wali Kota Ambon

Di Kota Ambon, Ely Toisutta hadir sebagai sosok pemimpin yang membawa semangat tata kelola pemerintahan yang jujur dan bermartabat. Ia memahami bahwa fondasi kemajuan sebuah kota terletak pada transparansi dan kepercayaan masyarakat yang tegak berdiri di atas sistem yang bersih.

Melalui langkah berani dalam digitalisasi birokrasi, ia memangkas celah praktik KKN demi menciptakan pemerintahan yang melayani, bukan dilayani. Namun, dedikasinya melampaui urusan administratif. Ia bahkan turun langsung ke wilayah krisis untuk memastikan akses air bersih, yang merupakan napas kehidupan yang paling mendasar, dapat dinikmati oleh setiap warga.

Kepeduliannya pun terwujud dalam perlindungan nyata bagi perempuan dan anak, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal dalam bayang-bayang kekerasan. Ely Toisutta bukan sekadar memimpin, ia mendedikasikan hatinya untuk menjadi perisai dan suara bagi masyarakat Ambon.

Ika Puspitasari
Wali Kota Mojokerto

Di bawah kepemimpinan Ika Puspitasari, Kota Mojokerto melangkah jauh melampaui zamannya melalui denyut inovasi yang tiada henti. Ratusan terobosan daerah yang ia lahirkan telah menjadi fondasi kokoh bagi transformasi ekonomi dan pariwisata, membuktikan bahwa teknologi adalah kunci untuk membuka pintu peluang baru bagi kemajuan kota.

Namun, bagi Ika, kemajuan sejati tidak hanya diukur dari angka digital, melainkan dari rasa aman yang dirasakan setiap warga di rumah mereka. Sebagai pembina siskamling terbaik di Jawa Timur, ia membuktikan komitmennya dalam menjaga harmoni dan ketertiban dari akar rumput. Setiap kebijakan yang ia ambil adalah langkah penuh makna, menenun kemajuan Mojokerto dalam balutan keamanan yang terjaga.

Netta Indian
Wakil Bupati Banyuasin

Di kabupaten Banyuasin, nama Netta Indian terukir dalam lembaran sejarah sebagai perempuan pertama yang mengemban amanah di puncak pemerintahan daerah. Sebagai Wakil Bupati, ia membawa perspektif baru yang memadukan ketangguhan kebijakan dengan kelembutan pengabdian, memastikan setiap langkah pembangunan berpijak pada kesejahteraan rakyat.

Fokusnya tak tergoyahkan dalam menjaga kualitas generasi masa depan melalui pengentasan stunting yang ia jadikan prioritas utama. Namun, visinya melampaui isu kesehatan, karenanya ia bergerak nyata mentransformasikan sektor pertanian dengan mengoptimalkan lahan rawa menjadi hamparan produktif. Baginya, menjaga Banyuasin sebagai lumbung pangan terbesar di Sumatera bukan sekadar prestasi, melainkan janji untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Netta Indian adalah perpaduan antara inovasi dan ketulusan. Ia adalah sosok yang menghadirkan arah baru bagi Banyuasin yang lebih sehat, mandiri, dan berdaya.

Galeri

Dokumentasi momen berharga, mulai dari selebrasi pemenang hingga kemeriahan acara red carpet dan fashion show.